Gelo maneh, nitah urang mikir…heu3x. Tapi engke ku urang dicoba ditulis. Ide bagus **
( Gila lu, nyuruh gw mikir..heuheuheu, tapi nanti gw coba tulis.Ide Bagus..)
From: Dony Psycho
10:12pm 19-Dec-06
Begitulah isi SMS dari sobat gw dony reza, ketika gw “nantang” dia untuk sharing masalah yang gw gak tau kenapa gw pengen banget nantangin dia, yaitu arus kehidupan. gw tanya “Dalam menjalani hidup apa kita mengikuti arus kehidupan ato kita sendiri yang membuat arus kehidupan itu?”
Jawaban dari sobat gw itu ternyata hebat banget gak nyangka bakal di jawab panjang banget (seperti biasa itu udah jadi habitnya dony..:P) disini mau gw konfrontasikan dan gw studi komparasi ama pendapat gw jawaban pertama yang keluar dari dony adalah TERGANTUNG… (kenapa sih gw selalu berurusan dengan kata ini), lengkapnya : tergantung bagaimana kita memandang kehidupan itu. Kalau kita berpikir bahwa kehidupan adalah seperti perjalanan dari hulu sungai menuju lautan, maka jadilah bagian dari sungai atau lebih tepatnya jadi AIR itu sendiri, niscaya kita tidak akan tersesat dan sampai ke tujuan.
Namun, resikonya adalah kita tidak bisa menolak dengan apa yang “pasti” terjadi, jalur yang berkelok-kelok, menabrak batu besar, turun ke jurang, ada saat tenang, ada saat ber-riak, kita tidak bisa berbuat banyak di sana. Tidak peduli apakah kita sudah lelah atau tidak, apakah kita suka atau tidak, mau atau tidak mau, arus sungai akan membawa kita, bahkan terkadang arus menyeret semakin cepat membawa kita.
Sesekali mungkin kita bisa mendapatkan ‘hiburan’ dengan ‘dibelokkan’ untuk mengairi sawah. Itu nasib yang akan kita rasakan jika kita menjadi bagian dari sungai. Dan lebih parah lagi, mungkin kita tidak akan bisa mencapai tujuan atau bahkan lebih lama mencapai lautan karena terhalang bendungan, atau karena ketika masuk ke dalam tubuh manusia dan hewan, lalu berakhir menjadi kucuran air kencing sebelum akhirnya bergabung kembali dan mengotori ’saudara’ se-air pada aliran sungai tersebut. Meskipun kita sampai tujuan, satu hal yang pasti, kita tidak sebening seperti pertama kita memulai perjalanan. Di tengah jalan tercampur limbah, tercampur sampah, bangkai hewan, kotoran manusia dan berbagai jenis penyakit terbawa sampai tujuan. Lebih mengenaskan lagi, kita lah ‘penyebar’ kotoran itu. mungkin kita sudah tidak mengenal diri kita sendiri yang sudah terkontaminasi berbagai jenis kotoran tersebut.
Namun, lain hal-nya jika kita tidak menjadi bagian dari sungai tersebut. Katakanlah kita manusianya. Kita bisa saja berjalan di pinggir sungai, arus sungai tetap kita jadikan patokan, sehingga kita tahu kemana arah sungai tersebut. Dengan tahu nya arah sungai, mungkin kita bisa memotong jalan untuk mencapai ke suatu titik lebih cepat, tanpa perlu melalui jalan yang berkelok-kelok, menabrak batu besar, atau bendungan sekalipun. Namun, tidak berarti jalur yang kita ambil tanpa hambatan atau gangguan, bisa jadi jalur yang diambil lebih berat dan menyulitkan, namun pencapaian ke titik tertentu bisa lebih cepat, tidak perlu berputar-putar. Atau jika perlu kita membuka jalan baru sendiri, agar suatu saat orang lain bisa mengikuti jalur yang kita buat. Bisa jadi, kita lah yang membelokkan aliran air untuk mengairi sawah ketika melihat sawah yang kering.
Selain itu, kita bisa lebih leluasa untuk menentukan kapan kita istirahat, kapan kita melanjutkan perjalanan, atau sekedar menikmati pemandangan di sekitar, atau sesekali kita menikmati berenang dan berarung jeram ria di sungai tersebut. Dengan menjadi bagian dari sungai, kita tidak bisa melakukan hal itu. Meskipun, bisa saja terjadi, ketika kita memotong jalan, kita menemukan perkampungan dimana ada wanita cantik di sana dan kita tergoda untuk kemudian tinggal di sana, sampai akhirnya kita lupa dengan tujuan kita. Sama juga, kita mungkin tidak sebersih seperti ketika memulai perjalanan, namun kita bisa meminimalisir tingkat kekotoran yang menempel pada tubuh kita, toh kita masih bisa mandi untuk membersihkan diri. Bandingkan dengan jika kita menjadi air sungai yang tidak bisa menolak apa pun yang dibuang kepadanya.
—————————–
Ya menurut gw kalo hidup kita ini mengalir mengikuti arus yang ada kita pasti dapat mencapai tujuan kita walaupun sebenarnya juga tujuan itu bukan merupakan yang kita harapkan tapi karena kita “TERBAWA” arus itu dan akhirnya sampai tujuan, kita DIBENTUK secara otomatis dalam proses perjalanan aliran AIR itu. bisa dibilang nasib kita, kita gantungkan pada perjalanan nanti yang akan terjadi, karna kita hanya bisa ikut saja, walaupun sebenarnya tujuan akhirnya sudah kita tentukan
Sedangkan kita menjadi manusia yang melihat aliran air itu, dan tak ingin “MENGALIR BEGITU SAJA” tentu kita punya rencana tersendiri, artinya semuanya kita yang atur mau apa kita nanti, sudah kita rencanakan sebelumnya. tapi resikonya tetap tujuan akhir bisa kita capai atau pun juga bisa gagal, tapi ada catatan bahwa kita mencapai tujuan itu dengan cara dan jalan kita SENDIRI
Ada analogi lain yang sobat gw itu kemukakan dan menurut gw, gak kepikiran sama sekali ama gw
——————–
Contoh lain adalah ketika kita mau mencapai suatu tempat, ada beberapa cara, mau naik angkot, jalan kaki, naik motor atau apalah, yang penting sampai. Kalau naik angkot, kita sudah pasti mengikuti jalur yang sudah ditentukan, mau macet, mau tidak, mau lambat ataupun cepat, pokoknya lewat jalur itu. Misalkan kita kesal karena sopir angkot ngetem menunggu penumpang sampai penuh, atau belok isi bensin dulu, bahkan mogok sekalipun, kita tetap tidak bisa berbuat banyak, kecuali kita sopir angkotnya. Selain itu, kita harus membayar pula, berdesak-desakan, dan terkadang harus ribut dengan sopir angkot tersebut gara-gara masalah ongkos, belum lagi kalau ada copet. Lain halnya kalau kita naik motor atau jalan kaki, tidak ada aturan yang mengharuskan kita mengikuti jalur yang sama dengan angkot tadi. Mau isi bensin dulu, mau makan dulu, kita bisa sangat menikmati perjalanan itu.
Jika kita memandang kehidupan seperti belantara hutan yang tidak pernah terjamah oleh manusia, dan kita tidak pernah tahu ada apa saja di dalamnya, maka kita memang harus menjadi pembuka jalan jika ingin keluar dari hutan tersebut. Pada saat itu, mungkin intuisi atau naluri kita yang lebih banyak berperan, membaca tanda-tanda alam, bersahabat dengan alam sekitar, atau menjadi bagian dari alam itu sendiri untuk bisa beradaptasi dan tetap bertahan hidup. Sebab jika tidak seperti itu, maka kita akan berada di hutan itu selamanya dan menjadi ’santapan’ alam.
——————-
GILA gw gak bisa komentar untuk yang ini bener-bener analogi yang bagus.
Nah intinya sekarang kita harus MEMILIH (dan berurusan lagi dengan kata ini), pilihan kita sendiri untuk menjadi bagian dari arus kehidupan, atau membuat arus sendiri. Arus kehidupan seringkali menyeret kita sangat cepat, bahkan di saat kita tidak siap sekalipun. Sedikit sekali orang yang mau membuat arus sendiri, karena memang bukan pekerjaan yang mudah. Orang lebih tertarik untuk mengikuti arus yang ada, meskipun belum tentu arus tersebut membawa ke arah yang benar. Dan arus kehidupan juga mudah sekali dikendalikan oleh mereka yang berkuasa. Konsekuensinya, sebagai bagian dari arus kehidupan, kita harus mengikuti arus itu, meskipun kita tidak pernah tahu arus itu membawa kita kemana. Lain halnya dengan orang-orang yang memiliki arus sendiri, jalur sendiri, jalan sendiri, mereka tidak akan terpengaruh dengan perubahan arus yang ada, meskipun mereka harus tersisih. Namun satu hal yang pasti, mereka boleh bangga karena bisa membuat jalur kehidupan sendiri yang suatu saat mungkin akan diikuti oleh orang lain.
Tapi sekali lagi itu semua TIDAK MUDAH ataupun selancar apa yang gw utarakan.
Kesimpulan gw SETIAP ORANG MEMILIKI JALAN MASING – MASING DAN MEMPUNYAI HAK UNTUK MENENTUKAN JALAN ITU
Dan satu lagi jawaban dari sobat gw Dony, ARUS KEHIDUPAN BISA SANGAT KEJAM, sahabat……..
Alhamdulillah…
With Me, Mr looking-for-the-answer
The Kredit :
# Thanks to Sobat gw Dony,I appreciate that
# ** Bahasa dan ejaan sesuai dengan bahasa aslinya mengikuti SMS yang gw terima














Begitulah Donny Reza. Satu hal yang kusuka padanya: dia mau memandang persoalan dari berbagai sudut pandang.
iya mas emg top bgt, oia buku mas shodig yg istikharah cinta itu emg bagus ya saya minjem dari donny
catur! panjang bangetttttt
Olab yeuh
jgn diliat panjangnya tp isinya
hehehe,
somehow gw tau itu kata-kata donny..
itu kata2 donny ko k3 tahun yang lalu
Heubat geuning si Akang Doni teh….
bener ki, hebat pisan
Hidup adalah ibarat air, karena air sumber kehidupan
Sip lah Donny tea, hehe
hahahah bener kang
Wey, dah 3 tahun nih tulisan … emang aye yang nulis tuh?
) sekarang mah lagi naek parahu di sungai euy, mesinnya mati, pengendali juga hilang …
) kumaha sungai aja mau ke mana
)
Tur, panjang pisan….
jawaban tergantung merupakan jawaban yang tidak memiliki arah bagi dirinya … artinya jawabannya mengandung penetapan bahwasannya dirinya mau seperti itu tapi belum, sehingga belum bisa melangkah …
jawabang tergantung biasanya nggak mau memojokkan dirinya pada 1 kondisi
Hidup adalah sebuah ‘persepsi’ saja
Ada 1 juta orang , ada 1 juta persepsi, persepsi ditentukan oleh isi dari otak kita, sementara otak kita tergantung dari input yang yang mengisinya.
Semakin banyak input, akan semakin banyak pemikiran, pemahaman. sementara pemahaman akan membawa kita kepada kebijakan bertindak. Seseorang memberikan beberapa opsi dalam menyelesaikan permasalahan, karena dia mungkin pernah melewatinya, atau pernah membantu menyelesaikan, atau telah banyak membaca hal-hal serupa yang orang lain pernah mengalaminya. Dia memberikan penawaran dari berbagai sudut pandang karena dia tahu bahwa setiap kita mempunyai kondisi pisik dan psikis yang berbeda, belum tentu yang berhasil oleh si A akan berhasil juga diterapkan sama si B.
Gaya Hidup seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana orang itu memandang hidup
Keberhasilan seseorang bisa dilihat dari niat dan tujuan yang ditautkan diawal keberangkatan.
Keputusan yang diambil seseorang untuk memilih jalan hidup adalah keputusan dari apa yang selama ini dia terima dan dia punya.
Pemahaman tergantung dari ilmu yang kita miliki, yang kita ucapkan adalah refleksi isi dari yang ada didalam otak kita.
Wallahu ‘alam …
salam silaturahim …
salam ramadhan