Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2009

Sebuah Jiwa


Belakangan ini jiwa seorang blogger gw seakan terampas, bukan karena rasa malas yang mendera, tapi gw terlalu dimanja oleh kehebatan facebook yang mengakibatkan terbengkalainya si momento mori ini

jiwa seorang blogger biasanya timbul setelah adanya semangat untuk menulis, bisa dimana aja, di rumah, di kantor, di perjalanan, dimana aja, tidak perlu laptop yang mahal, atau PC desktop yang mumpuni untuk menuangkan ide tulisan, cukup semua di rekam di kepala kita terlebih dahulu, baru kemudian kita salin ketika kita sudah mendapatkan koneksi untuk ber online ria

situs jejaring facebook memang sungguh sangat dahsyat menyihir semua orang untuk berlomba – lomba online, mengupdate status agar tidak ketinggalan berita terbaru

disinilah bedanya, media blog lebih luas lagi untuk menuangkan ide dengan panjang lebar, meskipun di facebook sendiri ada fasilitas notes, tapi memposting suatu konten di blog merupakan suatu kebanggaan tersendiri untuk memperlihatkan eksistensi diri

we are bloggers….

Read Full Post »


Gelo maneh, nitah urang mikir…heu3x. Tapi engke ku urang dicoba ditulis. Ide bagus **

( Gila lu, nyuruh gw mikir..heuheuheu, tapi nanti gw coba tulis.Ide Bagus..)

From: Dony Psycho

10:12pm 19-Dec-06

Begitulah isi SMS dari sobat gw dony reza, ketika gw “nantang” dia untuk sharing masalah yang gw gak tau kenapa gw pengen banget nantangin dia, yaitu arus kehidupan. gw tanya “Dalam menjalani hidup apa kita mengikuti arus kehidupan ato kita sendiri yang membuat arus kehidupan itu?”

Jawaban dari sobat gw itu ternyata hebat banget gak nyangka bakal di jawab panjang banget (seperti biasa itu udah jadi habitnya dony..:P) disini mau gw konfrontasikan dan gw studi komparasi ama pendapat gw jawaban pertama yang keluar dari dony adalah TERGANTUNG… (kenapa sih gw selalu berurusan dengan kata ini), lengkapnya : tergantung bagaimana kita memandang kehidupan itu. Kalau kita berpikir bahwa kehidupan adalah seperti perjalanan dari hulu sungai menuju lautan, maka jadilah bagian dari sungai atau lebih tepatnya jadi AIR itu sendiri, niscaya kita tidak akan tersesat dan sampai ke tujuan.

Namun, resikonya adalah kita tidak bisa menolak dengan apa yang “pasti” terjadi, jalur yang berkelok-kelok, menabrak batu besar, turun ke jurang, ada saat tenang, ada saat ber-riak, kita tidak bisa berbuat banyak di sana. Tidak peduli apakah kita sudah lelah atau tidak, apakah kita suka atau tidak, mau atau tidak mau, arus sungai akan membawa kita, bahkan terkadang arus menyeret semakin cepat membawa kita.

Sesekali mungkin kita bisa mendapatkan ‘hiburan’ dengan ‘dibelokkan’ untuk mengairi sawah. Itu nasib yang akan kita rasakan jika kita menjadi bagian dari sungai. Dan lebih parah lagi, mungkin kita tidak akan bisa mencapai tujuan atau bahkan lebih lama mencapai lautan karena terhalang bendungan, atau karena ketika masuk ke dalam tubuh manusia dan hewan, lalu berakhir menjadi kucuran air kencing sebelum akhirnya bergabung kembali dan mengotori ’saudara’ se-air pada aliran sungai tersebut. Meskipun kita sampai tujuan, satu hal yang pasti, kita tidak sebening seperti pertama kita memulai perjalanan. Di tengah jalan tercampur limbah, tercampur sampah, bangkai hewan, kotoran manusia dan berbagai jenis penyakit terbawa sampai tujuan. Lebih mengenaskan lagi, kita lah ‘penyebar’ kotoran itu. mungkin kita sudah tidak mengenal diri kita sendiri yang sudah terkontaminasi berbagai jenis kotoran tersebut.

Namun, lain hal-nya jika kita tidak menjadi bagian dari sungai tersebut. Katakanlah kita manusianya. Kita bisa saja berjalan di pinggir sungai, arus sungai tetap kita jadikan patokan, sehingga kita tahu kemana arah sungai tersebut. Dengan tahu nya arah sungai, mungkin kita bisa memotong jalan untuk mencapai ke suatu titik lebih cepat, tanpa perlu melalui jalan yang berkelok-kelok, menabrak batu besar, atau bendungan sekalipun. Namun, tidak berarti jalur yang kita ambil tanpa hambatan atau gangguan, bisa jadi jalur yang diambil lebih berat dan menyulitkan, namun pencapaian ke titik tertentu bisa lebih cepat, tidak perlu berputar-putar. Atau jika perlu kita membuka jalan baru sendiri, agar suatu saat orang lain bisa mengikuti jalur yang kita buat. Bisa jadi, kita lah yang membelokkan aliran air untuk mengairi sawah ketika melihat sawah yang kering.

Selain itu, kita bisa lebih leluasa untuk menentukan kapan kita istirahat, kapan kita melanjutkan perjalanan, atau sekedar menikmati pemandangan di sekitar, atau sesekali kita menikmati berenang dan berarung jeram ria di sungai tersebut. Dengan menjadi bagian dari sungai, kita tidak bisa melakukan hal itu. Meskipun, bisa saja terjadi, ketika kita memotong jalan, kita menemukan perkampungan dimana ada wanita cantik di sana dan kita tergoda untuk kemudian tinggal di sana, sampai akhirnya kita lupa dengan tujuan kita. Sama juga, kita mungkin tidak sebersih seperti ketika memulai perjalanan, namun kita bisa meminimalisir tingkat kekotoran yang menempel pada tubuh kita, toh kita masih bisa mandi untuk membersihkan diri. Bandingkan dengan jika kita menjadi air sungai yang tidak bisa menolak apa pun yang dibuang kepadanya.

—————————–

Ya menurut gw kalo hidup kita ini mengalir mengikuti arus yang ada kita pasti dapat mencapai tujuan kita walaupun sebenarnya juga tujuan itu bukan merupakan yang kita harapkan tapi karena kita “TERBAWA” arus itu dan akhirnya sampai tujuan, kita DIBENTUK secara otomatis dalam proses perjalanan aliran AIR itu. bisa dibilang nasib kita, kita gantungkan pada perjalanan nanti yang akan terjadi, karna kita hanya bisa ikut saja, walaupun sebenarnya tujuan akhirnya sudah kita tentukan

Sedangkan kita menjadi manusia yang melihat aliran air itu, dan tak ingin “MENGALIR BEGITU SAJA” tentu kita punya rencana tersendiri, artinya semuanya kita yang atur mau apa kita nanti, sudah kita rencanakan sebelumnya. tapi resikonya tetap tujuan akhir bisa kita capai atau pun juga bisa gagal, tapi ada catatan bahwa kita mencapai tujuan itu dengan cara dan jalan kita SENDIRI

Ada analogi lain yang sobat gw itu kemukakan dan menurut gw, gak kepikiran sama sekali ama gw

——————–

Contoh lain adalah ketika kita mau mencapai suatu tempat, ada beberapa cara, mau naik angkot, jalan kaki, naik motor atau apalah, yang penting sampai. Kalau naik angkot, kita sudah pasti mengikuti jalur yang sudah ditentukan, mau macet, mau tidak, mau lambat ataupun cepat, pokoknya lewat jalur itu. Misalkan kita kesal karena sopir angkot ngetem menunggu penumpang sampai penuh, atau belok isi bensin dulu, bahkan mogok sekalipun, kita tetap tidak bisa berbuat banyak, kecuali kita sopir angkotnya. Selain itu, kita harus membayar pula, berdesak-desakan, dan terkadang harus ribut dengan sopir angkot tersebut gara-gara masalah ongkos, belum lagi kalau ada copet. Lain halnya kalau kita naik motor atau jalan kaki, tidak ada aturan yang mengharuskan kita mengikuti jalur yang sama dengan angkot tadi. Mau isi bensin dulu, mau makan dulu, kita bisa sangat menikmati perjalanan itu.

Jika kita memandang kehidupan seperti belantara hutan yang tidak pernah terjamah oleh manusia, dan kita tidak pernah tahu ada apa saja di dalamnya, maka kita memang harus menjadi pembuka jalan jika ingin keluar dari hutan tersebut. Pada saat itu, mungkin intuisi atau naluri kita yang lebih banyak berperan, membaca tanda-tanda alam, bersahabat dengan alam sekitar, atau menjadi bagian dari alam itu sendiri untuk bisa beradaptasi dan tetap bertahan hidup. Sebab jika tidak seperti itu, maka kita akan berada di hutan itu selamanya dan menjadi ’santapan’ alam.

——————-

GILA gw gak bisa komentar untuk yang ini bener-bener analogi yang bagus.

Nah intinya sekarang kita harus MEMILIH (dan berurusan lagi dengan kata ini), pilihan kita sendiri untuk menjadi bagian dari arus kehidupan, atau membuat arus sendiri. Arus kehidupan seringkali menyeret kita sangat cepat, bahkan di saat kita tidak siap sekalipun. Sedikit sekali orang yang mau membuat arus sendiri, karena memang bukan pekerjaan yang mudah. Orang lebih tertarik untuk mengikuti arus yang ada, meskipun belum tentu arus tersebut membawa ke arah yang benar. Dan arus kehidupan juga mudah sekali dikendalikan oleh mereka yang berkuasa. Konsekuensinya, sebagai bagian dari arus kehidupan, kita harus mengikuti arus itu, meskipun kita tidak pernah tahu arus itu membawa kita kemana. Lain halnya dengan orang-orang yang memiliki arus sendiri, jalur sendiri, jalan sendiri, mereka tidak akan terpengaruh dengan perubahan arus yang ada, meskipun mereka harus tersisih. Namun satu hal yang pasti, mereka boleh bangga karena bisa membuat jalur kehidupan sendiri yang suatu saat mungkin akan diikuti oleh orang lain.

Tapi sekali lagi itu semua TIDAK MUDAH ataupun selancar apa yang gw utarakan.
Kesimpulan gw SETIAP ORANG MEMILIKI JALAN MASING – MASING DAN MEMPUNYAI HAK UNTUK MENENTUKAN JALAN ITU

Dan satu lagi jawaban dari sobat gw Dony, ARUS KEHIDUPAN BISA SANGAT KEJAM, sahabat……..

Alhamdulillah…

With Me, Mr looking-for-the-answer

The Kredit :
# Thanks to Sobat gw Dony,I appreciate that
# ** Bahasa dan ejaan sesuai dengan bahasa aslinya mengikuti SMS yang gw terima

Read Full Post »